23 Des 2024

Malam Tidak Pernah Jatuh di Surabaya

 


“Matahari telah gagal tenggelam di Kota Surabaya, dan mungkin saja itu karena ulah warga-nya sendiri!”

Jam dinding bertuliskan Rolex yang terpajang di Warkop Sedulur Tunggal Kopi Jalan Dharmawangsa, sudah menunjukkan pukul 11 malam. Semestinya, matahari telah tenggelam 6 jam yang lalu, tapi pada kenyataannya, tanggal 24 Desember 2024, malam tidak menunjukkan batang hidungnya di Kota Surabaya!

Nampaknya hal ini tidak hanya dialami di Kota Surabaya, namun juga dialami di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, dan sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan dan Mojokerto. Fenomena ini membuat masyarakat menjadi geger gedhen. Semua lapisan masyarakat takjub dan panik atas fenomena tersebut. Tak terkecuali Mat Rono, seorang pria 28 tahun asli Bangkalan, Madura yang sedang asyik ngopi di Warkop STK Dharmawangsa. Namun, ketakjuban Mat Rono lebih ke arah yang absurd. Ia merasa bersyukur sekaligus bingung menanggapi fenomena yang baru dialaminya selama ia hidup dan merantau 8 tahun di Surabaya.

Masjid-masjid di sekitar Gubeng Airlangga dan Gubeng Kertajaya sudah ramai dikerumuni oleh jamaah yang mengadakan pengajian dadakan, bahkan mereka sudah berkumpul dari pukul 7 malam selepas salat Isya. Tujuan mereka satu, doa bersama supaya menjadi sekumpulan manusia yang selamat dari hari akhir. Suara tangis dan doa pecah bersahutan di seluruh penjuru gang yang penuh kos putri tersebut. Para bapak mencoba menenangkan istri dan anaknya, sedangkan para ibu saling beradu teriakan. Sesekali dapat terdengar ucapan Allahu Akbar memekakkan telinga.

Jalanan telah dipenuhi oleh para pemuda klub motor, yang cenderung menanggapi fenomena tersebut sebagai ajang berkerumun. Jalan Kertajaya Raya hingga Jalan Sulawesi dipenuhi oleh berbagai  komunitas motor, seperti komunitas Honda CB, komunitas motor 2 tak, komunitas Suzuki Satria, dan masih banyak yang lainnya. Berbanding terbalik dengan kejadian di sekitaran jalan Dharmawangsa, di area tersebut malah diwarnai dengan kecot antar komunitas. Uniknya, meskipun saling kecot, tak ada satupun dari mereka yang benar-benar adu bogem di jalanan. Kumpulan tersebut seperti ada dalam kondisi pasrah dengan apapun yang terjadi kedepannya. Mereka paham bahwasanya bisa saja, beberapa menit lagi kiamat datang. Namun dasarnya mereka adalah orang-orang yang sangat menikmati hidup, maka mereka tak segan untuk berkerumun dengan kawan-kawannya meskipun nyawa sedang dipertaruhkan. “Ah lek mati yo uwes, kan gak dewean” ujar salah satu dari mereka.

Melihat banyaknya komunitas motor yang berkumpul sepanjang Jalan Kertajaya dan Jalan Sulawesi, membuat para penjaja makanan dan minuman tak melewatkan kesempatan tersebut. Mereka seakan diberikan tambahan rejeki oleh yang maha kuasa. Penjaja kacang rebus, jagung bakar, kopi susu keliling, hingga penjaja kanebo menghiasi seluruh penjuru jalanan. Para pedagang asongan ini menangapi fenomena matahari yang tak tenggelam dengan sangat positif, mereka yakin bahwasanya kiamat tidak akan datang selama rumah- rumah ibadah masih dipenuhi oleh orang alim, meskipun mereka sendiri jarang - jarang mengunjungi rumah ibadah dikarenakan sedang kejar target harian. Bagaimana tidak mau kejar target? Tahun depan semua barang naik karena PPN 12% pikir mereka.

Pemerintah daerah dan pusat tampak panik. Mereka yang dari orok tidak pernah percaya dengan peneliti atau ilmuwan, secara tiba-tiba mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan hebat di seluruh penjuru Nusantara, benar-benar dari Sabang, sampai perbatasan Indonesia dan Papua Barat. Mereka semua dikumpulkan dan ditanyai pendapat mengenai fenomena ini, beberapa dari ilmuwan tersebut menyebutnya sebagai Midnight Sun, seperti yang terjadi di sebagian wilayah Norwegia tiap tahunnya di bulan Mei - Juli. Namun yang terjadi di Norwegia cukup masuk akal, karena wilayah mereka dekat dengan area kutub. Spekulasi juga bermunculan dari para ilmuwan, “jangan-jangan ada fenomena bergesernya kutub ke arah Kota Surabaya? Tapi apa yang menjadi pemicunya? Kalaupun pindah kemari, mengapa Kota Surabaya masih panas kentang-kentang alih-alih berlumuran bunga salju?”

—-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Sial!” seloroh seorang mahasiswa rantau. Ia tak menduga bahwa fenomena matahari yang bersinar sepanjang hari, sudah memasuki hari ke-40. Ia menggerutu karena kamar indekos yang ia sewa tidak terdapat fasilitas AC, maklum saja, harganya cuma 750 ribu per bulan, di area Gubeng pula. Matahari yang tak kunjung tenggelam ini membuat hawa di Surabaya jadi banyak panasnya, kecuali ketika hujan datang. Ia jadi makin sering mondar-mandir ke minimarket yang ber-AC karena feenomena ini.

Sebulan lebih matahari tidak tenggelam di Surabaya, masyarakat kelas atas atau yang biasa disebut Crazy Rich Surabaya sudah berbondong-bondong pindah ke Malang dan sekitarnya supaya ritme sirkadian mereka tidak terganggu. Pikir mereka riwa-riwi via tol Surabaya-Pandaan tidaklah mahal, wong penghasilan mereka sehari bisa ratusan juta dari gurita-gurita bisnisnya. Lain ladang, lain belalang, fenomena ini membuat beberapa kampung di Surabaya, terpaksa membuat kanopi-kanopi yang menutupi seluruh area pemukiman. Malahan, hal ini dijadikan lomba antar RT, dan tentu saja Kecamatan yang paling semangat dalam perlombaan kanopi ter-istimewa adalah Kecamatan Tambaksari. Warga Tambaksari memang terkenal dengan jiwa kompetitif dan yang pasti tidak mau ngalah.

Skena musik di Surabaya tidak kalah anehnya menanggapi fenomena ini. Beberapa minggu terakhir, mereka rutin mengadakan rave party sepanjang hari. Mulai pukul 10.00 hingga 05.00, mereka berpesta seakan tiada hari esok, sialnya, memang kesannya seperti tiada keesokan hari. Di sisi lain, skena musik underground juga tidak mau kalah, area Monumen Kapal Selam tidak pernah sepi bahkan hampir tiap hari. Hal tersebut dikarenakan tiap dua hari sekali selalu ada saja kolektif-kolektif kecil yang mengadakan gigs sederhana, yang bahkan line-up band-nya diisi oleh band yang baru berdiri selama 7 hari, sebut saja seperti Midnight Sun Attack yang ber-genre Neo-Skramz. Mereka semua berpikir bahwa esok hari telah tiada, maka pertunjukan musik adalah perlawanan kecil terhadap semesta yang tak lagi berpihak pada mereka.

Pada hari ke-40, rumah-rumah ibadah, ternyata telah kembali normal. Tiada lagi tangisan dan doa yang bersahutan, tiada lagi anak-anak kecil yang terlihat bingung melihat ibunya sesenggukan di pelataran Masjid. Komunitas motor yang sering berkerumun di Jalan Kertajaya dan Jalan Sulawesi juga perlahan menghilang. Kondisi seakan kembali normal seperti sedia kala. Mungkin yang paling kontras adalah satu hal, yaitu kemunculan kultus-kultus baru yang menjadikan matahari sebagai objek untuk disembah. Rata-rata kultus tersebut mengadopsi gaya ritual Kejawen, namun dibumbui dengan sedikit ritual dari Suku Inca yang lebih senior dalam hal menjadikan matahari sebagai objek sesembahan.

Mat Rono juga mulai terbiasa dengan kondisi new normal tersebut. Ia yang awalnya bekerja di sebuah agensi kreatif yang hampir bangkrut, berpindah profesi menjadi penjaja penutup mata premium. Tak ragu, Mat Rono menyewa sebuah bedhag di Jalan Djarmawangsa, bekas toko vape yang dulu pernah ramai. Sudah 3 minggu ia menjalani usaha tersebut, dan Mat Rono adalah pelopor penjual penutup mata premium di Surabaya. Banyak pedagang yang ikut-ikutan, namun tokonya tak se-ramai dan se-viral toko milik Mat Rono. Mungkin karena barang dagangannya terbukti dapat memberikan kesan ‘malam hari’ yang otentik, atau Mat Rono sekadar mendapatkan sedikit belas kasih Dewi Fortuna saja. “Balik kampung bisa kaya raya nih!” Pikir Mat Rono.

Memasuki hari ke-45, tiba-tiba ‘keanehan’ terjadi. Matahari menunjukkan pergerakan seperti semula, yaitu mengarah ke barat dan siap untuk jatuh tertelan bumi. Sontak masyarakat yang sudah akrab dengan matahari sepanjang hari, merasa cemas akan kejadian ini. Mereka yang sudah terbiasa dengan matahari sepanjang waktu merasa tidak siap dengan kondisi tersebut. Ada yang merasa ketakutan bahwasanya matahari tidak akan pernah mampir lagi ke Surabaya, ada pula yang merasa ditinggalkan oleh objek yang mereka dewa-kan. Seluruh media massa di penjuru negeri mengabarkan berita ini dengan ekspresi penuh kepedihan, seakan mereka lupa bahwa di-awal fenomena tersebut terjadi, semua ketakutan karena memprediksi kiamat akan segera datang. Aneh memang, manusia diciptakan dengan struktur berpikir yang plin-plan, namun justru berkat pemikiran seperti itu pula, manusia tidak punah hingga saat ini.

Mat Rono kesal, ia segera menutup toko-nya yang sudah ia sewa selama 6 bulan penuh, cash keras pula. Mat Rono mondar-mandir di gang-gang Gubeng Airlangga hingga Gubeng Kertajaya dengan perasaan kalut. Ia uring-uringan karena baru kemarin pula, ia kulak 100 lusin penutup mata premium. Ia bingung harus diapakan barang-barang tersebut nantinya. Kekesalannya makin menjadi-jadi ketika ia sampai di dekat area Viaduct Gubeng.

Ternyata disana sedang dihelat konser dadakan yang mengundang artis lokal. Bagaimana Mat Rono tak kesal? Wong lagu yang sedang dibawakan berjudul “Malam Jatuh di Surabaya”, dibawakan langsung oleh Silampukau pula! “Oalah Jiancuk! Temancok jheren!” Umpatnya keras-keras.


Gelanggang ganas 5:15 

Di Ahmad Yani yang beringas

Sinar kuning merkuri Pendar celaka akhir hari Malam jatuh di Surabaya

Magrib mengambang lirih dan terabaikan Tuhan kalah di riuh jalan

Orkes jahanam mesin dan umpatan Malam jatuh di Surabaya

Selama-lamanya Di gelanggang yang sama Malam jatuh di Surabaya


Silampukau - Malam Jatuh di Surabaya


TAMAT


continue reading Malam Tidak Pernah Jatuh di Surabaya

13 Sep 2024

Bunuh Diri 5 September yang Aneh

Bunuh Diri 5 September yang Aneh

“Apabila malam 5 september kemarin keadaan cuaca tidak terlalu menusuk tulang, mungkin sekarang ia masih sempat menghela napas serta sempat meminta pertolongan”.


Kamis malam Jumat tanggal 5 September, aku bergegas menjemput pacarku untuk sekadar mengajaknya makan malam berdua. Aku sudah terngiang soal bagaimana nasi putih hangat, yang beradu dengan dengan bebek goreng penuh lumuran bumbu kuning khas Madura, luluh lantah didalam kecap mulutku. Malam itu cuaca Surabaya mengalami anomali, dingin, dan entah mengapa, pikirku menyantap bebek goreng khas Madura adalah pilihan yang sangat tepat. Motor Supra keluaran awal, yang masih berlabel “Astrea Supra” itu, bergegas ku keluarkan dari garasi kos untuk kupanaskan sebelum berangkat menjemput kekasihku. Setelah mesin cukup panas, ba’da maghrib aku memulai perjalanan untuk menemui kekasihku di kos-kosannya, maklum, kami sama-sama perantau dari kabupaten yang kurang tenar di daerah Jawa Timur, nge-kost adalah pilihan ekonomis yang mampu kami lakukan ditengah gempuran tidak-seimbangnya UMR dan beban kerja.


Setengah perjalanan kulalui dengan lancar, pikirku ini aneh, dimana biasanya, hari Kamis adalah hari dimana kota sebesar Surabaya akan mengalami kemacetan yang cukup padat. Namun disisi lain aku juga berpikir bahwa, ditengah kelancaran situasi jalanan ini, pasti bakal ada satu titik yang mampu membuat darahku mendidih saking macetnya. Sial! Mestinya aku tidak berpikir demikian, walhasil kemacetan panjang terjadi di daerah jembatan Kali Jagir yang menghubungkan Jalan Raya Nginden dan Jalan Panjang Jiwo. Macetnya sampai membuat beberapa pengendara melakukan manuver putar balik mencari jalan lain untuk sampai di tujuan masing-masing. Aku yang sudah kepalang mumet, merasa pasrah saja dan memilih untuk mengikuti arus kemacetan yang ada, disisi lain aku juga penasaran, tumben sekali daerah tersebut mengalami kemacetan lalu-lintas, “Ada apa ya?” pikirku.


Makin mendekat dengan jembatan, keadaan menjadi makin ramai, orang-orang dewasa berbondong-bondong menjulurkan kepalanya ke arah sungai, berbincang kecil samar-samar, serta mulai menyulut api kecil pada rokok tanpa filter yang sudah nangkring di mulut mereka. Sementara, anak-anak kecil juga beramai-ramai menghampiri kerumunan, tanpa intensi apapun, selain untuk dapat bertemu dengan kawan-kawannya yang juga mulai keluar dari rumah, karena melihat kerumunan. Para penjaja keliling tentu tak akan melewatkan kesempatan emas ini, mereka bergegas menghampiri kerumunan, menjajakan berbagai hal, mulai dari bakpao Chik Yen, kacang rebus, tauwa, dan masih banyak yang lainnya. Toko Madura di dekat jembatan Kali Jagir juga mendapatkan berkah dari keramaian yang terjadi, bapak-bapak perokok mulai mengerumuni toko tersebut untuk sekadar membeli rokok ketengan. Pikirku “Kok gak wegah yo wong-wong iki padahal lagi adem”.


Tak terasa aku sudah sampai tepat diatas Jembatan Kali Jagir, disana pula aku mulai melihat satu peleton tim SAR yang sudah siap turun dengan menggunakan perahu karetnya. Disitu benakku masih samar-samar, antara ada sesuatu yang tenggelam, bisa benda atau manusia, atau sedang ada acara perlombaan perahu naga. Pikirku begitu, toh masih dalam suasana 17 Agustus-an. Namun aku acuh saja, kutanggalkan sejenak rasa penasaranku demi bisa segera makan bebek goreng hangat bersama kekasihku. Tak lama kemudian aku terbebas dari kemacetan serta langsung memacu gas sampai mentok supaya segera sampai di lokasi.

—-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bebek goreng langganan kami memang tiada tanding, lezatnya masih sama seperti ketika awal merantau di Surabaya sebagai mahasiswa di tahun 2015. Dagingnya sangat empuk dan lekoh. Setelah malahap habis hidangan, aku mulai bercerita bagaimana perjalananku sebelumnya mengalami kemacetan, aku jelaskan pula detil-detil hal yang terjadi, mulai dari bapak-bapak yang berkerumun, penjaja asongan, serta tim SAR yang bersiaga. Pacarku yang memang dasarnya suka penasaran, tergerak untuk mencari informasi lebih, mengenai kejadian tersebut, ia mulai membuka beberapa kanal media online untuk menemukan jawaban dari rasa penasarannya, lalu benar saja, tak sampai 10 menit, pacarku sudah menemukan salah satu beritanya. Sialnya, itu bukan berita mengenai lomba perahu naga dalam rangka Agustus-an, alh-alih, beritanya adalah soal seorang mahasiswa perantauan dari salah satu kabupaten di Jawa Timur yang nekat melakukan bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri di Kali Jagir. Seketika ada perasaan aneh menerpa diriku, rasanya seperti menjadi seseorang yang paling tidak dapat berempati di seluruh semesta.


Rasa egois dari diriku yang ingin segera menemui kekasihku dan mengajaknya makan bebek goreng, mengalahkan rasa penasaranku untuk mencari informasi mengenai fenomena yang terjadi di depan mataku. Entah mengapa, aku merasa menyesal, seakan tidak berkontribusi seperti warga yang berkerumun di sekitar jembatan, menengadahkan kepala dan mencecarkan matanya, guna menemukan jasad korban bunuh diri tersebut. Pacarku masih meneruskan untuk mencari-cari informasi mengenai kejadian tersebut, mungkin karena kejadiannya tepat di area jalan lewatannya sehari-hari saat berangkat dan pulang kerja. Wajar saja ia penasaran dan merasa simpatik. Dalam perjalanan mengantarkan pacarku pulang, aku terdiam, berpikir keras mengenai persoalan apa yang sekiranya menimpa sang korban sehingga ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Sia-sia sebetulnya, dengan minimnya informasi yang kudapat, aku tidak menemukan jawaban apa-apa. “Keadaan atau peristiwa seperti apa yang ia alami sampai ia memilih untuk bunuh diri ya?” gumamku dalam hati.

—--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seperti biasa, aku pamit pulang setelah beberapa saat berbincang didepan kos kekasihku, namun kali ini berbeda, aku tak berpamitan untuk langsung pulang ke kos-kosan, namun aku berpamit untuk mengunjungi tempat kejadian perkara atau TKP bunuh diri, yaitu Jembatan Kali Jagir. Perasaanku memaksa untuk mendatangi area tersebut, terlepas apapun yang akan kulakukan disana, yang penting sampai dulu, pikirku. Ketika sampai di tepian sungai, aku masih melihat beberapa gerombol warga yang rajin memicingkan matanya ke tiap sudut sungai yang gelap, bahkan ranting-ranting pun tak terlewat mereka soroti dengan cahaya lampu senter. Aku yang hanya berbekal dompet dan ponsel, tak dapat berbuat banyak disana, namun kali ini aku memberanikan diri untuk berbincang dengan salah seorang pemuda di sebelahku yang kebetulan juga sedang melihat-lihat ke arah perginya aliran sungai. Perawakannya agak gempal, memakai kaos hitam dan celana agak gombrang, percis dengan gaya-gaya kekinian anak muda yang banyak berseliweran di media sosial.


“Kejadiane yaopo Mas?” tanyaku pada pemuda tersebut. Ia menjelaskan dengan singkat bahwasanya korban yang masih mahasiswa secara tiba-tiba meloncat dari sosoran jembatan dan langsung tercebur di sungai, namun, sebelum ia benar-benar tenggelam ke dasar sungai, korban sempat meminta pertolongan kepada siapapun yang mendengarnya. Sial, warga di sekitar tidak memiliki cukup nyali untuk menyelamatkannya, mungkin juga warga yang kebetulan melihat kejadian tersebut bukanlah orang yang bisa berenang. Sungguh nahas batinku. Aku membayangkan bagaimana air sungai yang memunculkan riak-riak kecil itu timbul, dikala korban sedang berusaha menyelamatkan diri. Aku yakin korban berpikir bahwa pilihan bunuh dirinya agak konyol dan menyakitkan, rasanya sesak ketika membayangkan kehabisan napas ditengah-tengah air sungai yang berusaha masuk memenuhi paru-paru. Apalagi cuaca sedang dingin.


Obrolan kami terputus dikala pemuda tersebut berpamitan kepadaku untuk pulang ke rumah, “mugo-mugo ae korban diampuni segala kesalahane yo Mas” tandasnya. Aku yang masih berada di tepi jembatan, sontak mendoakan yang terbaik untuk arwah korban, disisi lain, aku juga berdoa semoga jasadnya bisa segera ditemukan serta dapat dikebumikan dengan layak. Belum selesai perasaan frustasi campur aduk yang aku rasakan, perasaan lain malah datang menghampiriku. Kurasa, kematian korban bunuh diri tersebut, membawa banyak berkah bagi warga sekitar. Mulai dari pemilik Toko Madura, penjaja kacang rebus, jagung rebus, serta penjaja Tauwa yang dagangannya masih banyak, seketika ludes malam itu juga. Alhamdulillah pikirku. Anak-anak kecil juga tiba-tiba diperbolehkan keluar malam dan bercengkerama dengan teman-temannya di malam yang dingin itu, pasti asyik menurut mereka. Absurd, aku tidak tahu lagi ini adalah kejadian yang tragis atau keberkahan, yang bisa kuharapkan adalah, semoga dengan banyaknya manusia yang diuntungkan atas kejadian tersebut, mampu menjadi amal penghapus dosa untuk sang korban bunuh diri. Ya, jika memang akhirat itu ada.


“Ah, mungkin ini maksud dari analogi ‘As above so below’ yang tertera dalam Tablet Zamrud!” batinku. Apapun yang datang dari atas, juga berasal dari bawah, begitu pula sebaliknya, semua adalah ‘kesatuan’ yang saling memengaruhi. Lagi-lagi, dunia adalah tempat yang terlalu absurd untuk ditinggali, pikirku.


TAMAT



continue reading Bunuh Diri 5 September yang Aneh

5 Apr 2020

Only Yesterday: Quarter Life Crisis dan Keputusan Besar Dalam Kehidupan (spoiler alert!)


          

“Kehidupan seringkali tidak berjalan mulus seperti aspal jalan protokol yang baru saja direvitalisasi oleh Pemerintah Provinsi”. Mungkin begitulah kalimat yang cukup tepat untuk menggambarkan keseharian seseorang yang sedang mengalami quarter life crisis, dimana dalam fase-fase tersebut, terdapat banyak sekali angan yang terlintas dalam benak. Mulai dari urusan pekerjaan yang stagnan, kehidupan asmara yang begitu-begitu saja tanpa rencana yang jelas kedepannya, atau mungkin perasaan mengganggu yang muncul semacam; “apa sih yang sudah kulakukan 20 tahun terakhir ini? Kok gini amat hidup!”. Perasaan-perasaan resah tersebut makin menjadi-jadi seringkali pada insan-insan yang terpapar media sosial, mereka seringkali mengeluh karena melihat postingan maupun InstaStory rekan-rekan mereka yang sudah memiliki pekerjaan impian, kehidupan pernikahan yang mulus (seperti jalan protokol), maupun pencapaian-pencapaian lainnya. Setidaknya begitulah keresahan-keresahan yang muncul disamping pertanyaan pamungkas bin nggatheli, yaitu; “kapan menikah?”

            Keresahan-keresahan kehidupan ‘20 tahun’ tersebut nampaknya terangkum dengan cukup gamblang dan sederhana melalui karya seorang masterpiece film animasi Jepang bernama Isao Takahata (Almarhum). Bersama Studio Ghibli, ia membuat film dengan tajuk ‘Only Yesterday’ atau dalam bahasa Jepang-nya disebut ‘Omoide Poroporo’ (dirilis pada tahun 1991), sebuah adaptasi dari manga berjudul sama yang digarap Hotaru Okamoto dan Yuko Tone. Terpaut jauh memang dengan saat ini (2020), yaitu 29 tahun. Namun setiap lembar frame dari film tersebut juga terasa sangat relate dengan kehidupan siapapun yang sedang diterpa quarter life crisis. Cerita dimulai ketika karakter utama, yaitu Okajima Taeko yang mendambakan kehidupan di desa. Keluarganya telah turun-temurun tinggal di Tokyo, Ibukota Jepang sebagai pusat perekonomian. Saat masa kanak-kanak tahun 1966, Taeko yang masih kelas 5 SD seringkali merasa iri terhadap kawan-kawannya yang pergi liburan ke rumah nenek mereka di desa. Ia pun merengek pada ibunya agar bisa liburan di desa. Rengekannya tak digubris, sebab ibunya berujar: ‘nenek tinggal bersama kita’ dan ‘kakek sudah meninggal dunia’. Tujuh belas tahun berlalu, setting berpindah pada tahun 1983 dimana Taeko sudah berusia 27 tahun serta bekerja sebagai karyawan perusahaan di Tokyo. Untuk memenuhi obsesinya terhadap kehidupan di desa yang asri, ia memutuskan untuk mengambil cuti dari kantornya selama 10 hari lalu berangkat ke Yamagata, sebuah kota kecil dengan pemandangan sawah dan ladang dimana disana juga terdapat keluarga dari kakak-ipar Taeko berada. Ini merupakan perjalanan kedua Taeko untuk mengunjungi Yamagata dengan menggunakan sleeper train di malam hari.

            Perjalanan tersebut rupanya tak hanya dilaksanakan oleh Taeko, namun tiba-tiba ia ‘terbayang’ akan potongan-potongan kecil kenangan diri-nya ketika saat masih berusia 11 tahun, tepat pada saat ia masih kelas 5 SD, dimana bukan hanya soal rengekan ingin berlibur di suasana pedesaan, tapi juga lika-liku hidup keseharian Taeko kecil dengan keluarga serta teman-teman sekolahnya yang meliputi: cinta monyetnya dengan Hirota, anak kelas sebelah yang jago main baseball (disini digambarkan Taeko yang perasaannya berbunga-bunga setelah berpapasan dijalan dengan Hirota); ketidakbecusannya menggarap soal-soal matematika sampai dicurigai ‘tidak normal’ oleh kakak kedua dan ibunya; improvisasinya saat mementaskan drama di kelas yang dianggap berlebihan sampai harus ‘dibatasi’ oleh gurunya; rasa takutnya terhadap haid pertama setelah mendapat pendidikan reproduksi; tamparan pertama (dan terakhir) dari ayahnya sebagai hukuman karena ia tidak bisa menepati kata-katanya sendiri; pertengkaran wajar antar saudara dengan Yaeko, kakak keduanya; kebingungan keluarga Taeko saat harus makan nanas, buah tropis yang dianggap aneh; dan serba-serbi kehidupan sehari-hari lainnya. Seperti layaknya bagaimana film animasi dengan genre slice of life pada umumnya.

            Cerita dilanjutkan kepada pertemuannya dengan Toshio, sepupu dari suami kakaknya yang menjemputnya di stasiun kala subuh. Mereka berdua saling berbagi cerita didalam mobil sedan kecil yang membawa mereka menyusuri jalanan pedesaan, sawah, hingga ladang. Toshio memutar lagu petani Hungaria yang mewarnai perjalanan mereka berdua untuk tiba di tujuan. Perbincangan dihiasi berbagi pengalaman soal pekerjaan mereka berdua, dimana Toshio berujar bahwa sebelum menjadi petani organik bersama temannya, sebelumnya ia juga pernah menjadi pekerja kantoran seperti Taeko, namun memutuskan berhenti dan melanjutkan mimpi sebagai perani organik yang sangat idealis soal penggarapan sawah dan berladang. Mereka berdua juga membincangkan persoalan kebijakan pasar di Jepang pada tahun 80’an yang menjadi momok bagi beberapa pekerjaan seperti bertani. Matahari masih berada di balik gunung saat Taeko dan Toshio sampai di ladang bunga safflower milik keluarga Kazuo, kakak ipar Taeko. Taeko sengaja mengambil kereta malam supaya langsung bisa ikut memetik bunga safflower, dimana bunga safflower merupakan bahan dasar pewarna lipstik. Bersepatu bot, topi lebar, serta celana kerja petani, Taeko bergabung dengan anggota keluarga Kazuo yang sebelumnya telah menyapanya. Sang surya perlahan memunculkan sinarnya. Ditengah pemandangan memanjakan mata-khas Studio Ghibli-tersebut, beberapa anggota keluarga menghadapkan badan mereka ke arah matahari, menangkupkan tangan di dada, serta menundukkan kepala. Taeko dan Toshio melakukan hal serupa, sebagai tanda penghormatan atas apa yang telah alam berikan untuk kehidupan (ini adalah scene super keren!).

            Taeko-pun menjalani sepuluh hari cutinya dengan bekerja sebagai seorang petani bunga safflower, dimana diantara realita tersebut, potong demi potong kenangan masa kecilnya juga turut muncul, dimana ia masih berusia 11 tahun. Dalam berbagai kesempatan, baik saat memetik bunga, maupun berbincang-bincang dengan Toshio ataupun saat bercengkerama dengan Naoko (putri dari keluarga Kazuo yang masih kecil). Kenangannya silih berganti bermunculan, mulai dari bagaimana Taeko merasa takut ketika harus berhadapan dengan haid pertama nantinya selepas kelas reproduksi (yang berimbas pada kawan-kawan lelakinya yang diam-diam mulai menyingkap rok para siswi perempuan dengan tidak sopan untuk mengetahui apakah mereka sedang haid atau tidak), bagaimana soal matematika sangat menyulitkannya (dimana disaat bersamaan ia sedang bercengkerama dengan Toshio mengenai bagaimana kawan-kawan Taeko yang menguasai hal tersebut, kehidupannya sekarang sudah mapan), serta suatu hari dimana ia hampir menjadi bintang karena ditawari untuk bermain peran teater di sebuah universitas dengan audiens besar pada masa kanak-kanak. Cerita terus berlanjut hingga pada malam terakhir sebelum kembalinya Taeko pada kehidupan di Tokyo, nenek tua dari keluarga Kazuo (keluarga yang menampung Taeko selama di Yamagata) dengan iseng menawari Taeko untuk menikah dengan Toshio serta menjalani kehidupan di desa sebagai seorang petani. Hal tersebut ditanggapi beragam oleh beberapa anggota keluarga Kazuo (ada yang berujar bahwasanya itu tidak mungkin dilakukan karena Taeko adalah orang Tokyo), yang mana berimbas pada kondisi tertekan dalam diri Taeko, sehingga ia memutuskan untuk berlari ke jalanan dalam kondisi hujan (scene klise yang sering kita jumpai didalam FTV ala Indonesia). Taeko merenungi kehidupannya, serta merasa bahwasanya apa yang ia lakukan selama di Yamagata adalah sebuah ketidakjujuran dalam dirinya yang perlu ia atur dikemudian hari. Disaat yang bersamaan, kenangannya saat masa kelas 5 SD kembali muncul,

            Dalam waktu yang bersamaan, ia teringat akan teman lelakinya yang super dekil sehingga menjadi bahan perbincangan kawan-kawan sekelas. Taeko merasa bersalah karena pernah memeragakan lagak temannya tersebut ketika berjalan dihadapan Taeko dengan aksen sok seram. Tak lama berselang, Toshio muncul dengan mengendarai mobilnya dari jalan raya. Toshio yang melihat hal tersebut dengan sigap menyuruh Taeko masuk serta menawarkan untuk segera pulang, namun Taeko meminta untuk berjalan-jalan sejenak diselingi obrolan-obrolan ringan. Taeko menceritakan bagaimana ia yang susah payah berdamai dengan ingatan-ingatan masa kecilnya. Toshio menjadi pendengar yang baik, dimana Taeko berpikir bahwa Toshio adalah orang yang mengagumkan (disini Taeko membayangkan kehidupan berdua sebagai petani dengan Toshio), selain idealisme-nya menjadi seorang petani organik di era Jepang modern. Scene dilanjutkan pada keesokan hari dimana Taeko harus kembali ke Tokyo, dimana ini adalah scene yang sangat mengagumkan sehingga membuat saya menangis!

            Selepas perpisahannya dengan keluarga Kazuo di stasiun, scene antara kenangan-kenangan masa kecil dan realita bertemu didalam gerbong kereta. Taeko kecil dan kawan-kawannya muncul bersamaan disaat Taeko melamun. Disaat itu pula, Taeko beranjak untuk turun di stasiun terdekat demi kembali ke Yamagata, ia menyusuri perjalanan dengan menggunakan kereta lagi serta bus tanggung, dimana sebelumnya Taeko telah menelepon keluarga Kazuo tentang keputusannya untuk kembali ke Yamagata. Scene diakhiri dengan dijemputnya Taeko oleh Toshio di stasiun Yamagata, dimana disaat itu pula-lah scene ‘perpisahan’ Taeko dewasa dengan Taeko kecil divisualisasikan. Adegan menyentuh tersebut diakhiri dengan raut muka Taeko kecil yang kebingungan dengan apa yang sedang dilihat oleh kedua matanya, selayaknya seorang anak kecil, kebingungan tersebut menjadi sangat lumrah untuk dimaklumi.

Alur yang ringan, penyutradaraan mengedepankan sisi humanis.

            Seperti layaknya manga eiga (Studio Ghibli-terutama Hayao Miyazaki-enggan menyebut karya animasi mereka sebagai anime) dengan genre slice of life, alur penceritaan dibuat sangat ringan serta menitiberatkan pada kehidupan sehari-hari sebagai tema utama (dalam hal ini quarter life crisis). Jika kalian menyukai film-film dengan garapan alur ala Yasujiro Ozu (Tokyo Story misalnya), kalian akan sangat menyukai gaya penyutradaraan Isao Takahata (rest easy Paku-San!) ini. Adegan demi adegan digarap dengan sangat realistis dan mengedepankan sisi humanis, terutama perasaan seseorang sebagai individu yang ingin merdeka dari kehidupannya sendiri. Problem kehidupan usia 27 tahun disampaikan dengan lugas dan tanpa banyak ‘menye-menye’. Pekerjaan menyita harapan (Silampukau apa kabar? Kapan rilis album baru?), pertanyaan menjemukan dari sanak famili soal pernikahan, serta keikhlasan insan untuk melepas kenangan masa lalu. Selain itu, penggambaran sifat dari tiap-tiap tokoh juga tidak berlebihan, seperti halnya ayah dari Taeko yang tegas, dingin, serta berorientasi pada ‘kesuksesan konvensinal’ ala ‘Asian father’ kebanyakan, serta Ibu dari Taeko yang tidak terlalu banyak bicara serta berorientasi pada prestasi akademis terhadap Taeko di sekolah.

Visualisasi yang mengagumkan.

            Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwasanya Studio Ghibli merupakan studio animasi Jepang yang visualisasinya sangat tokcer, begitu pula dengan ‘Only Yesterday’. Penonton dimanjakan dengan ademnya suasana pedesaan yang dominan hijau, serta gaya penggambaran pemandangan dengan teknik water colour yang perlu diapresiasi dengan tinggi. Selain itu, yang lebih mengagumkan adalah bagaimana Isao Takahata (dan tim) menampilkan kenangan-kenangan masa kecil Taeko dengan gaya visualisasi yang berbeda. Seperti layaknya memori yang kita coba ingat dalam-dalam, pastinya otak kita memvisualisasikan dengan tidak sempurna, yang teringat hanyalah kejadian penting-penting saja, hal-hal disekitarnya menjadi buram. Hal itulah yang menjadi penanda bahwasanya terdapat dua alur dalam film ini, yaitu dunia realitas dan dunia dalam memori Taeko. Tidak dapat dipungkiri, ini adalah masterpiece dalam hal visualisasi film animasi.

Scoring dan soundtrack yang memanjakan telinga.

            Pembawaan scoring sangatlah penting dalam sebuah karya audio-visual, dimana disini Studio Ghibli (lagi-lagi) tidak mengecewakan penggemarnya. Katz Hoshi-lah yang mengambil peran dalam tata suara, dimana banyak diantara adegan-adegan seperti halnya saat matahari terbit di ladang bunga safflower, diiringi dengan scoring yang ciamik soroh. Selain itu, soundtrack pada adegan terakhir juga tak bisa dilewatkan begitu saja, ‘Ai wa Hana, Kimi wa sono Tane’ merupakan lagu yang digubah dari versi aslinya yang berbahasa Inggris dengan judul ‘The Rose’ karya Amanda McBroom, dan yang berperan mengisi vokal atas gubahan tersebut adalah suara merdu Harumi Miyako.

Mengapa film ini penting ditonton?


            Film ini menjadi penting dan worth to watch dikarenakan isu yang dibawa sangat relevan bahkan hingga hari ini sekalipun. Pada tahun rilisnya, ‘Only Yesterday’ menjadi film dengan pendapatan tertinggi di Jepang, selain itu, website kritik film semacam Rotten Tomatoes memberikannya skor sebesar 100%! Tema kehidupan sehari-hari sepertinya merupakan salah satu tema yang mengakar kuat dalam film maupun karya-karya dengan medium lain di Jepang, sama halnya dengan Only Yesterday, dimana disini penonton dihadapkan pada keputusan peran utama untuk ‘bunuh diri kelas’, dari kehidupan kantoran ala penduduk Tokyo, demi menjalani kehidupan pedesaan yang tenang seperti dambaan banyak orang kota, namun kebanyakan dari mereka terlampau takut untuk mengambil keputusan tersebut. Selain itu, menonton film ini bisa menjadi sarana untuk refleksi diri dari pengambilan-pengambilan keputusan dalam menjalani kehidupan, serta bagaimana kenangan-kenangan menjadi pengingat akan harapan-harapan yang akan terus tumbuh di keesokan hari (hal ini terpapar dalam dialog antara Taeko dan Toshio dalam film). Film ini baru dirilis di US pada tahun 2016. Hal ini dikarenakan kekhawatiran distributor film-film Studio Ghibli di US, yaitu Disney karena ‘Only Yesterday’ menampilkan dilema gadis yang hendak menjalani haid pertamanya (shame on you Disney!). Bagi penulis, selain alasan-alasan diatas, terdapat satu alasan utama mengapa film ini wajib ditonton, yaitu karena penulis ingin menjalani kehidupan pedesaan, namun terlampau takut untuk meninggalkan kehidupan di kota, serta sebagai sebuah bentuk penghormatan tertinggi untuk mendiang Isao Takahata, master film animasi yang karya-karyanya erat dengan nilai-nilai kemanusiaan.
continue reading Only Yesterday: Quarter Life Crisis dan Keputusan Besar Dalam Kehidupan (spoiler alert!)

18 Feb 2019

Pop Art Dan Semangat Perlawanannya Terhadap Dominasi Seni Abstrak-Ekspresionisme


Pop Art merupakan sebuah aliran seni yang tumbuh dan berkembang pada tahun 1950-an, dimana gerakan seni tersebut lahir atas sebuah kejengahan terhadap dominasi seni abstrak-impresionisme yang berkembang pesat di penjuru Eropa. Pop Art atau yang biasa disebut sebagai Seni Pop, memiliki perbedaan jauh dengan Seni Populer. Walaupun, Seni Pop juga merupakan seni yang populer pada masanya. Kita bisa menyebutkan bahwasanya realisme tersebut merupakan Seni Pop pada masanya, namun realisme bukanlah Seni Pop yang diangkat oleh Andy Warhol, dimana disini Andy Warhol adalah tokoh sentral dimulainya Pop Art.
            Antara Seni Pop dengan Seni Populer, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Pada dasarnya, Pop Art merupakan seni yang tumbuh dan berkembang dari cabang seni rupa aliran Dadaisme. Ada yang menyebutkan bahwa Pop Art merupakan mass-culture art atau seni budaya massa. Jamie (1996), menjelaskan bahwa Pop Art merupakan perlawanan dari seni-seni yang sudah mapan, yang pada ketika itu pusatnya ada di Britania Raya (kini Inggris) serta United Stated (Amerika Serikat).
Lanjutkan membaca di : Download Jurnal

continue reading Pop Art Dan Semangat Perlawanannya Terhadap Dominasi Seni Abstrak-Ekspresionisme

7 Okt 2017

Toleransi Beragama, Bima : Utopia!



Toleransi merupakan hal yang cukup susah dilantunkan nan pelik dicari keberadaannya, ditengah tren politik dunia yang serba ‘ultra kanan’ ini. Termasuk di Indonesia, bahasan mengenai toleransi menjadi cukup meredup akibat tren tersebut. Akibatnya, gap antar umat beragama pun meruncing, semua seakan berhak atas kebenarannya masing-masing. Lantas, bagaimana dengan identitas yang terlepas dari ‘anti-kekacauan’? Dari sudut pandang seorang agnostik-ateis misalnya?
Indonesia merupakan sebuah negara yang berkemajemukan dalam segala aspeknya, mulai dari suku, agama, ras, dan lain sebagainya. Namun kemajemukan ini ternyata tak sepenuhnya dibebaskan sebebas-bebasnya. Indonesia merupakan negara republik yang hanya mengakui 6 agama yang ada didalamnya, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, Konghucu.
Hal ini tentulah merupakan sebuah blunder bagi Indonesia yang mengaku sebagai negara majemuk dan menghargai perbedaan, namun masih membatasi warganya untuk memeluk suatu agama maupun kepercayaan.
Implikasinya adalah para penganut Animisme maupun Dinamisme tak mendapatkan tempat didalam masyarakat Indonesia, contoh kecilnya adalah mereka dengan terpaksa harus mengisi kolom agama pada KTP sesuai dengan 6 agama yang diakui di Indonesia. Para penganut Animisme maupun Dinamisme saja tidak mendapatkan tempat, apalagi mereka yang memilih untuk menjadi Agnostik-atheis.
Bima Adi Priambodo (23) atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Bima, merupakan seorang alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga yang baru saja lulus pada bulan September 2016 lalu. Pria yang berdomisili di Kecamatan Asemrowo Kota Surabaya ini memilih untuk menjadi seorang Agnostik-atheis yang tentunya merupakan hal sangat langka dikalangan teman-teman sepergaulannya.
Menurutnya, Agnostik-atheis adalah istilah dalam ranah teologi dimana manusia dihadapkan pada posisi tidak memiliki pemahaman atau pengetahuan yang cukup terhadap hal yang ilahiah. Implikasinya adalah, seorang agnostik-atheis tidak dapat mempercayai yang disebut Tuhan oleh agama manapun karena terbatasnya pengetahuan manusia untuk menjangkau yang ilahi melalui penginderaan dan pengetahuan.
Dalam kesehariannya seorang agnostik atheis tidak berkomitmen terhadap ritual maupun ajaran agama yang diperkenalkan padanya. Bima sendiri mengakui bahwa ia sekarang telah meninggalkan semua ritual keagamaan yang tertulis dalam Kartu Tanda Penduduknya.
Bima mengakui bahwa orang yang paling berpengaruh dalam keputusannya menjadi seorang Agnostik-atheis adalah ibunya. Hal ini dikarenakan ibunya sering memberikan referensi berupa literatur tentang agama-agama di dunia, dan menurut Bima tiap agama-agama ini, terutama agama samawi (agama yang diturunkan kepada abraham dan keturunannya) memiliki kemiripan dengan agama pendahulunya.
Dari situ menurut Bima terdapat sebuah kejanggalan dimana agama yang seharusnya dijadikan pedoman, terus mengalami penyempurnaan dari masa ke masa. Sehingga Bima berkesimpulan bahwa ajaran yang dikenalkan pada jaman itu tidak konsisten. Memang tak hanya literatur-literatur dari ibunya yang membuat Bima menjadi demikian, namun disisi lain ia juga mempelajari literatur-literatur lain seperti filsafat dan budaya.
Bima lantas merasa mantap dan memutuskan untuk menjadi Agnostik-atheis karena pada akhirnya ia merasa bahwa kekuatan besar yang disebut Tuhan, hanyalah sesuatu yang belum dapat dipahami secara rasional maupun empiris, dan bumbu-bumbu mistik jaman dahulu membuat orang terlalu menggantungkan pemikiran dan tindakan mereka kepada Tuhan.
Padahal, manusia bisa mencapai kesempurnaan diri tanpa perlu mengaitkan deengan hal-hal yang bernuansa mistik. “Bayangkan saja, jika orang yang tengah sakit keras dan butuh penanganan medis terus berdoa tanpa melakukan pengobatan, padahal ia memiliki peluang untuk sembuh melalui prosedur medis. Dari situ saya berpandangan bahwa hidup ini harus diperjuangkan dengan segala daya tanpa perlu menggantungkan diri pada sesuatu yang tidak kita ketahui seperti Tuhan” tuturnya.
Dalam kehidupannya sehar-hari, ia banyak mendapati orang-orang yang pro dan kontra terhadap apa yang telah ia pilih sebagai jalan hidup. Mereka yang pro biasanya mempertanyakan bagaimana Bima bisa tidak percaya terhadap suatu entitas yang maha kuasa. Sementara itu yang kontra cenderung mencibir dan terkesan menjauhkan diri mereka dari Bima.
Contohnya pada saat Bima berkunjung ke rumah seorang teman, mereka sekeluarga sedang menjalankan Sholat Ashar dan Bima tengah duduk di dalam kamar temannya. Lantas Ibu dari teman Bima bertanya “kenapa temanmu tidak sholat?” menimbang pengetahuan orangtuanya dan latar belakang keluarga, teman Bima menjawab bahwa Bima beragama Hindu.
Esok harinya Bima merasa tidak enak hati dan mengikuti mereka sholat berjamaah meskipun hanya sebagai formalitas. Kemudian ibu dari teman Bima bertanya lagi “katanya temanmu Hindu, kok ikut sholat?” kemudian teman Bima menjelaskan yang sejujurnya bahwa Bima tidak cukup percaya dengan tuhan dan agama yang diperkenalkan oleh manusia.
Ibunya terheran dan menganggap bahwa apa yang Bima percayai ini salah. Sebab dibandingkan agamanya yang menurutnya paling sempurna, apa yang Bima yakini ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi.
Bima mulai merasa ketidaknyamanan terhadap kepercayaan yang pernah ia anut sejak 7 tahun lalu, dimana ia mulai meragukan beberapa hal tentang Tuhan dan agama yang ia anut sejak lahir. Ia bertutur bahwa menjadi Agnostik-atheis bukan suatu hal yang memerlukan prosedur susah seperti berpindah agama ataupun lainnya.
Pada akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa apa yang ia pilih memang susah dan cenderung untuk tidak bisa diterima di kalangan masyarakat luas disekitarnya. Namun, ia tetap percaya bahwa kehidupan harus tetap berjalan sebagaimana mestinya dengan segala resiko yang telah ia telaah baik-baik sebelum memutuskan diri menjadi seorang Agnostik-atheis.
            Pada lain sisi, Bima menyikapi keberagaman identitas agama di Indonesia sebagai sebuah keragaman yang semu. Pseudo-keragaman menurutnya, “ya gimana ya, mau beragam di Indonesia itu susah! Agak kiri dikit dianggap subversive, milih pemimpin non-Islam dianggap kafir, susah! Samain aja sekalian! Toleransi? Utopia!”. (07/10/2017)
continue reading Toleransi Beragama, Bima : Utopia!

“Paskyusa ”, Kelompok Paskibraka Modern Dengan Tugas Utamanya



Paskibraka adalah singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan tugas utamanya mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di 3 tempat, yakni tingkat Kabupaten/Kota (Kantor Bupati/Wali Kota), Provinsi (Kantor Gubernur), dan Nasional (Istana Merdeka).
Anggotanya berasal dari pelajar SMA Sederajat kelas 1 atau 2. Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus.
Selama waktu seleksi sampai 16 Agustus, seorang anggota calon Paskibraka dinamakan "CAPASKA" atau Calon Paskibraka. Pada waktu penugasan 17 Agustus, anggota dinamakan "PASKIBRAKA", dan setelah 17 Agustus, dinamakan "PURNA PASKIBRAKA".
            Seiring berjalannya waktu, Paskibraka berkembang dari yang hanya berpakem konvensional, menjadi modern. Paskibraka modern identic dengan ditambahkannya kreasi-kreasi pola gerakan baru, namun tidak menghilangkan segi konvensional dari Paskibraka pada umumnya.
            Lucky Ezra Pangkey (17), atau yang akrab disapa Lucky, menuturkan bahwa Paskibraka Modern merupakan Paskibraka konvensional yang mengalami modifikasi pada beberapa pola gerakannya, mulai dari melintang, cara berjalan, dan lain sebagainya.
            Menurut remaja kelahiran Surabaya ini, dengan adanya paskibraka modern, tidak membuat paskibraka konvensional kehilangan jati dirinya, “toh ini bagus, bikin siswa jadi bisa kreatif. Kan dasarnya nggak diubah, cuman ditambahin saja” paparnya.
            “Kalau paskibraka modern biasanya ada lomba kreasi, pbb kreasi, lomba yel yel, kostum yang dipakai juga dilombakan. Hampir semua yang dibawa dalam satu pleton itu dinilai”
            Lucky yang juga berperan sebagai Komandan Pleton utama di SMAK Santo Yusup tersebut, menuturkan bahwasanya sebenarnya peminat dari ekskul Paskibraka Modern di sekolahnya, tak sebanyak ekskul-ekskul lainnya. Ekskul seperti bola basket, badminton, dan futsal lebih banyak diminati, namun hal tersebut tak menyurutkan ia dan teman-temannya dalam membesarkan nama Paskyusa (sebutan kelompok Paskibraka di SMAK Santo Yusup).
            Remaja yang berdomisili di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo tersebut, menuturkan bahwa mengikuti Paskibraka Modern, sama menantangnya dengan mengikuti Paskibraka konvensional. Pasalnya, hal-hal seperti pelatihan fisik yang keras dan keterikatan dengan protokoler menjadi kewajiban yang tidak terlepas dari segala prosesnya.
            Paskyusa yang lahir di tahun 2008 tersebut, awalnya mengikuti lomba-lomba Paskibraka konvensional sesuai dengan SK Pangab. Namun, sesuai dengan SK Pangab yang baru, Paskyusa-pun mengikutinya, yaitu Paskibraka Modern. Paskyusa yang awalnya sangat konvensional-pun berubah menjadi lebih modern.
“Dulu pertama lahir, Paskyusa mengikuti ketentuan SK Pangab yang lama, masih konvensional, tapi karena ada perubahan SK Pangab baru-baru ini, ya ikut yang modern.”
            SK Pangab yang awalnya hanya menuntut keteraturan pola gerakan, sekarang mulai menjejali kriteria-kriteria seperti, keunikan kostum, semaraknya yel-yel, dan inovasi pola, dalam proses penilaiannya. Paskyusa-pun berinovasi, mereka tak ingin ketinggalan dengan sekolah-sekolah lain yang juga berinovasi.
            Saat ini, Paskyusa memiliki target-target tertentu untuk tetap menjaga eksistensi mereka di dunia perlombaan paskibraka modern. Mereka memiliki target-target yang tak tanggung-tanggung, mereka menargetkan untuk meraih minimal 2 trofi penghargaan tiap tahunnya.
            Target yang cukup besar tersebut bukanlah tanpa alasan, ia mengutarakan bahwa baru-baru ini saja, mereka baru memenangkan trofi juara favorit dalam perlombaan Paskibraka Modern yang diadakan di Universitas Widya Mandala.
            Paskyusa terkesan optimistis ditengah gempuran sekolah-sekolah negeri yang lebih sering memenangkan perlombaan paskibraka modern. “Agenda Paskyusa paling dekat ini ya mau ikut beberapa lomba lagi, di daerah Driyorejo, dan SMA – SMA lainnya, targetnya ya juara satu tentunya, semoga aja.” Tutur Lucky.
            Lucky berpendapat, bahwasanya ia memiliki sebuah harapan bagi Paskyusa dan seluruh Paskibra di seluruh Indonesia, “Jadi Paskibra itu harus tahan banting, tahan mental dan fisik, usaha nggak akan mengkhianati hasil, tetap solid dan selalu berusaha membanggakan almamater dan Indonesia secara umum itu sebuah kewajiban!” Tegasnya. (07/10/17)
continue reading “Paskyusa ”, Kelompok Paskibraka Modern Dengan Tugas Utamanya