18 Feb 2019

Pop Art Dan Semangat Perlawanannya Terhadap Dominasi Seni Abstrak-Ekspresionisme


Pop Art merupakan sebuah aliran seni yang tumbuh dan berkembang pada tahun 1950-an, dimana gerakan seni tersebut lahir atas sebuah kejengahan terhadap dominasi seni abstrak-impresionisme yang berkembang pesat di penjuru Eropa. Pop Art atau yang biasa disebut sebagai Seni Pop, memiliki perbedaan jauh dengan Seni Populer. Walaupun, Seni Pop juga merupakan seni yang populer pada masanya. Kita bisa menyebutkan bahwasanya realisme tersebut merupakan Seni Pop pada masanya, namun realisme bukanlah Seni Pop yang diangkat oleh Andy Warhol, dimana disini Andy Warhol adalah tokoh sentral dimulainya Pop Art.
            Antara Seni Pop dengan Seni Populer, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Pada dasarnya, Pop Art merupakan seni yang tumbuh dan berkembang dari cabang seni rupa aliran Dadaisme. Ada yang menyebutkan bahwa Pop Art merupakan mass-culture art atau seni budaya massa. Jamie (1996), menjelaskan bahwa Pop Art merupakan perlawanan dari seni-seni yang sudah mapan, yang pada ketika itu pusatnya ada di Britania Raya (kini Inggris) serta United Stated (Amerika Serikat).
Lanjutkan membaca di : Download Jurnal

continue reading Pop Art Dan Semangat Perlawanannya Terhadap Dominasi Seni Abstrak-Ekspresionisme

7 Okt 2017

Toleransi Beragama, Bima : Utopia!



Toleransi merupakan hal yang cukup susah dilantunkan nan pelik dicari keberadaannya, ditengah tren politik dunia yang serba ‘ultra kanan’ ini. Termasuk di Indonesia, bahasan mengenai toleransi menjadi cukup meredup akibat tren tersebut. Akibatnya, gap antar umat beragama pun meruncing, semua seakan berhak atas kebenarannya masing-masing. Lantas, bagaimana dengan identitas yang terlepas dari ‘anti-kekacauan’? Dari sudut pandang seorang agnostik-ateis misalnya?
Indonesia merupakan sebuah negara yang berkemajemukan dalam segala aspeknya, mulai dari suku, agama, ras, dan lain sebagainya. Namun kemajemukan ini ternyata tak sepenuhnya dibebaskan sebebas-bebasnya. Indonesia merupakan negara republik yang hanya mengakui 6 agama yang ada didalamnya, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, Konghucu.
Hal ini tentulah merupakan sebuah blunder bagi Indonesia yang mengaku sebagai negara majemuk dan menghargai perbedaan, namun masih membatasi warganya untuk memeluk suatu agama maupun kepercayaan.
Implikasinya adalah para penganut Animisme maupun Dinamisme tak mendapatkan tempat didalam masyarakat Indonesia, contoh kecilnya adalah mereka dengan terpaksa harus mengisi kolom agama pada KTP sesuai dengan 6 agama yang diakui di Indonesia. Para penganut Animisme maupun Dinamisme saja tidak mendapatkan tempat, apalagi mereka yang memilih untuk menjadi Agnostik-atheis.
Bima Adi Priambodo (23) atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Bima, merupakan seorang alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga yang baru saja lulus pada bulan September 2016 lalu. Pria yang berdomisili di Kecamatan Asemrowo Kota Surabaya ini memilih untuk menjadi seorang Agnostik-atheis yang tentunya merupakan hal sangat langka dikalangan teman-teman sepergaulannya.
Menurutnya, Agnostik-atheis adalah istilah dalam ranah teologi dimana manusia dihadapkan pada posisi tidak memiliki pemahaman atau pengetahuan yang cukup terhadap hal yang ilahiah. Implikasinya adalah, seorang agnostik-atheis tidak dapat mempercayai yang disebut Tuhan oleh agama manapun karena terbatasnya pengetahuan manusia untuk menjangkau yang ilahi melalui penginderaan dan pengetahuan.
Dalam kesehariannya seorang agnostik atheis tidak berkomitmen terhadap ritual maupun ajaran agama yang diperkenalkan padanya. Bima sendiri mengakui bahwa ia sekarang telah meninggalkan semua ritual keagamaan yang tertulis dalam Kartu Tanda Penduduknya.
Bima mengakui bahwa orang yang paling berpengaruh dalam keputusannya menjadi seorang Agnostik-atheis adalah ibunya. Hal ini dikarenakan ibunya sering memberikan referensi berupa literatur tentang agama-agama di dunia, dan menurut Bima tiap agama-agama ini, terutama agama samawi (agama yang diturunkan kepada abraham dan keturunannya) memiliki kemiripan dengan agama pendahulunya.
Dari situ menurut Bima terdapat sebuah kejanggalan dimana agama yang seharusnya dijadikan pedoman, terus mengalami penyempurnaan dari masa ke masa. Sehingga Bima berkesimpulan bahwa ajaran yang dikenalkan pada jaman itu tidak konsisten. Memang tak hanya literatur-literatur dari ibunya yang membuat Bima menjadi demikian, namun disisi lain ia juga mempelajari literatur-literatur lain seperti filsafat dan budaya.
Bima lantas merasa mantap dan memutuskan untuk menjadi Agnostik-atheis karena pada akhirnya ia merasa bahwa kekuatan besar yang disebut Tuhan, hanyalah sesuatu yang belum dapat dipahami secara rasional maupun empiris, dan bumbu-bumbu mistik jaman dahulu membuat orang terlalu menggantungkan pemikiran dan tindakan mereka kepada Tuhan.
Padahal, manusia bisa mencapai kesempurnaan diri tanpa perlu mengaitkan deengan hal-hal yang bernuansa mistik. “Bayangkan saja, jika orang yang tengah sakit keras dan butuh penanganan medis terus berdoa tanpa melakukan pengobatan, padahal ia memiliki peluang untuk sembuh melalui prosedur medis. Dari situ saya berpandangan bahwa hidup ini harus diperjuangkan dengan segala daya tanpa perlu menggantungkan diri pada sesuatu yang tidak kita ketahui seperti Tuhan” tuturnya.
Dalam kehidupannya sehar-hari, ia banyak mendapati orang-orang yang pro dan kontra terhadap apa yang telah ia pilih sebagai jalan hidup. Mereka yang pro biasanya mempertanyakan bagaimana Bima bisa tidak percaya terhadap suatu entitas yang maha kuasa. Sementara itu yang kontra cenderung mencibir dan terkesan menjauhkan diri mereka dari Bima.
Contohnya pada saat Bima berkunjung ke rumah seorang teman, mereka sekeluarga sedang menjalankan Sholat Ashar dan Bima tengah duduk di dalam kamar temannya. Lantas Ibu dari teman Bima bertanya “kenapa temanmu tidak sholat?” menimbang pengetahuan orangtuanya dan latar belakang keluarga, teman Bima menjawab bahwa Bima beragama Hindu.
Esok harinya Bima merasa tidak enak hati dan mengikuti mereka sholat berjamaah meskipun hanya sebagai formalitas. Kemudian ibu dari teman Bima bertanya lagi “katanya temanmu Hindu, kok ikut sholat?” kemudian teman Bima menjelaskan yang sejujurnya bahwa Bima tidak cukup percaya dengan tuhan dan agama yang diperkenalkan oleh manusia.
Ibunya terheran dan menganggap bahwa apa yang Bima percayai ini salah. Sebab dibandingkan agamanya yang menurutnya paling sempurna, apa yang Bima yakini ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi.
Bima mulai merasa ketidaknyamanan terhadap kepercayaan yang pernah ia anut sejak 7 tahun lalu, dimana ia mulai meragukan beberapa hal tentang Tuhan dan agama yang ia anut sejak lahir. Ia bertutur bahwa menjadi Agnostik-atheis bukan suatu hal yang memerlukan prosedur susah seperti berpindah agama ataupun lainnya.
Pada akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa apa yang ia pilih memang susah dan cenderung untuk tidak bisa diterima di kalangan masyarakat luas disekitarnya. Namun, ia tetap percaya bahwa kehidupan harus tetap berjalan sebagaimana mestinya dengan segala resiko yang telah ia telaah baik-baik sebelum memutuskan diri menjadi seorang Agnostik-atheis.
            Pada lain sisi, Bima menyikapi keberagaman identitas agama di Indonesia sebagai sebuah keragaman yang semu. Pseudo-keragaman menurutnya, “ya gimana ya, mau beragam di Indonesia itu susah! Agak kiri dikit dianggap subversive, milih pemimpin non-Islam dianggap kafir, susah! Samain aja sekalian! Toleransi? Utopia!”. (07/10/2017)
continue reading Toleransi Beragama, Bima : Utopia!